Narasi Muslim

Blogger Muslim Sejati

Blogger Muslim Sejati

Monday, November 12, 2018

Kapolresta Sidoarjo : Kerja itu Merupakan Ibadah

Kapolresta Sidoarjo Baru AKBP Zain Dwi Nugroho dihari pertama bekerja lansung tancap gas untuk membuat inovasi teknologi terkait Manajemen Media dan Pelayanan Publik berbasis IT. 

Berbincang di dalam ruang kerjanya, beliau tampak santai sekali dan welcome terhadap beberapa anggotanya yang pasti akan membantu kinerjanya selama di Sidoarjo. Hadir pula Kasubaghumas, Kabagsumda, Kabagren serta Kasat Intel Polres Sidoarjo.

Dalam rapat singkat tersebut Kapolresta Sidoarjo juga mendatangkan Pakar SEO dan pencetus Blogger Polri Muhammad Khoirul Amin SH. S.Kom M.Kom yang sebelumnya juga punya kontribusi banyak dalam kemajuan Polresta Sidoarjo dengan SKCK Online Nasional dan berhasil mendapatkan penghargaan dari Kemenpan RB. 

Pada kesempatan itu Kapolresta Sidoarjo menjelaskan bahwa pentingnya membangun kepercayaan publik dan pelayanan Polresta Sidoarjo agar lebih baik lagi, sehingga baik di hadapan Allah SWT dan bermanfaat bagi warga Sidoarjo khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Adapun beberapa inovasi unggulan tersebut sampai sekarang masih di rahasiakan. ” Tapi yang pasti semua itu untuk kemajuan polri ” pungkasnya sambil berpesan mohon dukungan dan doa agar bisa berkah dan amanah dalam memimpin Polresta Sidoarjo..



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2RNZ2Go
via Muslim Sejati

Sunday, November 4, 2018

Soal Muallaf Lindsay Lohan akhirnya memberikan kejelasan.

Dream – Lindsay Lohan menyita perhatian publik karena kedekatannya dengan Islam. Dia pernah tertangkap kamera tengah berjalan sembari mendekap Alquran di New York, Amerika Serikat.

Tidak itu saja, beberapa kali Lohan mengenakan hijab. Dia juga pernah mencantumkan kalimat salam, assalamu’alaikum, di akun Instagramnya.

Banyak orang menduga Lohan telah memeluk Islam. Tetapi, tim manajemennya menepis kabar tersebut dan menyatakan Lohan tertarik mengkaji ajaran Islam.

Sebenarnya Lohan pernah berbicara terkait masalah ini dalam sebuah wawancara di Good Morning Britain (GMB) pada 2017 lalu. Lohan tidak membenarkan, namun juga tidak membantah dugaan ia telah menjadi mualaf.

Jawaban Soal Masuk Islam

Waktu itu Lohan mengaku memang sedang mempelajari Alquran.

“Aku pikir belajar Alquran adalah sesuatu yang muncul begitu saja. Jadi, aku memang mempelajari Alquran. Tapi belum ada sesuatu yang pasti,” katanya.

Saat ditanya apakah dia membaca Alquran secara teratur, Lohan menjawab iya, tanpa keraguan.

“Ya, aku membacanya. Aku membaca Alquran yang terjemahan karena itu lebih mudah bagiku untuk belajar bahasa Arab,” ujarnya.

Lohan juga belajar menulis huruf Arab dan mengingat bacaan sholat.

Presenter GMB kemudian bertanya apakah Lohan sedang dalam proses untuk berpindah keyakinan. Lohan tidak langsung menjawab.

Dia mengatakan agama adalah urusan keyakinan spiritual masing-masing orang.

“Contohnya adikku yang memeluk agama Buddha. Ini semua urusan masing-masing orang,” kata Lohan.

“Mengapa kamu enggan mengatakan dengan kata lain bahwa kamu sedang dalam proses menjadi mualaf?” tanya host GMB.

Yang Membuat Islam Menarik

Lohan mengatakan dia tidak mau mengungkapkan sesuatu yang belum selesai. Meski begitu, Lohan merasa langkah yang dia jalankan adalah benar

Host juga bertanya apa yang membuat Lohan tertarik pada Islam. Lohan menjawab dia menemukan penghiburan jiwa di dalam Alquran.

“Alquran seolah memberi ketenangan dalam jiwaku. Selain itu, belajar budaya dan keyakinan Islam membuatku seperti dalam keluarga,” ucap Lohan.

“Banyak temanku adalah orang Arab dan mereka benar-benar orang baik bagiku,” kata Lohan melanjutkan.

Lohan juga mengungkapkan aktivitasnya sebagai relawan bagi anak-anak pengungsi Suriah. Juga pengalamannya saat berkunjung ke Turki.

“Semua ini memberikan ketenangan kepadaku. Itulah yang membuatku tertarik dengan Islam,” tambahnya.



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2OqmqHU
via Muslim Sejati

Model Aliza Kim Jadi Muallaf, Begini Cerita Aslinya

Aliza Kim, model internasional berdarah Thailand-Amerika Serikat mendapat hidayah dari Allah SWT dan akhirnya memeluk agama Islam. Kepada merdeka.com, dia bercerita bagaimana kisahnya yang penuh emosional hingga akhirnya memantapkan diri menjadi seorang muslimah.

Dirinya bersyukur, menjadi seorang muslimah membuatnya semakin banyak saudara. Ia juga mengapresiasi teman-teman dan lingkungannya yang terus mendukung menjadi seorang pemeluk agama Islam.

Berikut wawancara Aliza Kim, Senin (5/6):

Bisakah Anda menceritakan pengalaman untuk menjadi seorang muslim?

Mengenai pengalaman saya menjadi seorang muslimah, pengalaman yang sangat emosional dan penuh gairah. Saat melakukan penelitian dan membaca tentang Islam, saya menemukan diri saya. Setiap kata saya baca dengan asik, hingga saya sempat tertidur dan terbangun dengan diri yang baru. Seiring bertambahnya pemahaman saya, saya mulai berubah dalam hati dan juga secara lahiriah.

Sebagai contoh, saya sering memakai jilbab, bahkan di luar kelas agama yang saya hadiri, dan proses berpikir saya untuk menganalisis dan mengatasi masalah dalam kehidupan mulai berubah. Juga saat saya lebih mengerti tentang Allah SWT sebagai Perencana Terbaik.

Saya memiliki beberapa ketakutan dalam hal karir, dan juga apakah lingkungan sosial akan menerima saya ketika itu. Tetapi Allah SWT merawat saya. Setelah menyatakan syahadat, saya terkejut karena jumlah cinta untuk saya semakin tinggi, penerimaan dan dukungan yang dicurahkan oleh lingkungan untuk saya hingga di media sosial begitu fenomenal.

Saya juga memiliki banyak tantangan lain yang terjadi, ada beberapa ujian yang sangat sulit dari Allah dalam beberapa tahun pertama menjadi seorang muslimah. Tapi, secara umum saya dapat dengan jujur mengatakan bahwa ini adalah pengalaman yang indah. Saya merasa terhormat untuk menjadi seorang muslimah.

Perubahan besar apa yang Anda rasakan setelah mualaf?

Perubahan terbesar yang saya rasakan setelah menjadi seorang muslim mungkin adalah ketenangan pikiran melalui perkembangan menjadi seseorang yang tawakal. Bila kita tawakal (kepercayaan penuh pada Allah), kita menyadari bahwa setiap kesulitan juga merupakan berkah bagi kita.

Kami percaya bahwa apa yang telah terjadi adalah yang terbaik untuk menghindari sesuatu yang buruk dan hanya Allah yang tahu. Kita juga ingat bahwa ketika kita diuji dan terus melakukan apa yang benar (mempertahankan sabar dan adab) sebagai umat Islam maka tes itu membantu untuk menghilangkan dosa bagi kita, atau meningkatkan kita di tingkat surga tertinggi.

Pernahkah Anda dikucilkan karena menjadi seorang Muslim? Bagaimana dengan keluarga?

Alhamdulillaah saya tidak pernah dikucilkan. Seluruh komunitas, keluarga, teman, saya sangat luar biasa. Namun, saya diberitahu bahwa karir saya sebagai artis telah berakhir oleh beberapa agen. Tapi, Insha Allah, karir saya sebelumnya telah diganti dengan sesuatu yang lebih cocok untuk saya.

Siapa yang memiliki peran besar untuk mengubah kepercayaan Anda?

Saya tidak akan mengaitkan peran besar apapun kepada seseorang karena memang Allah SWT yang membimbing saya dan membuka hati saya. Orang-orang digunakan oleh Allah WT untuk menyampaikan pesan tentang Islam dan kemudian Allah yang secara langsung membuka hati seseorang untuk mengerti dan menerima Islam.

Namun, ada teman dekat dan beberapa ilmuwan yang berperan dalam memberi saya bahan bacaan dan membantu pemahaman saya tentang Islam di masa-masa awal. Saya sangat berterima kasih kepada Allah SWT karena telah menempatkan mereka dalam hidup saya untuk membantu saya.



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2D0Vht2
via Muslim Sejati

Friday, November 2, 2018

Jangan Mau Indonesia Dibuat Hancur Seperti Suriah

Sekjen Ikatan Alumni Syam Indonesia (Alsyami) M. Najih Arromadloni menyatakan, hal yang paling fundamental agar Indonesia tidak jatuh ke dalam kondisi (hancur, luluh lantak, krisis multidimensi) seperti Suriah adalah dengan tidak mempolitisasi agama.
Ia menyatakan demikian saat melihat adanya beberapa kelompok yang gemar menggunakan mimbar masjid untuk hujatan politik. Menurutnya segala usaha ‘melacurkan’ agama untuk kepentingan politik harus ditolak.
Dia tidak menampik, bahasa dan simbol agama memang efektif untuk mengelabui masyarakat, seperti akhir-akhir ini ramai klaim ‘bendera tauhid’ atau ‘bendera Rasul’. Padahal menurut Najih yang juga dosen ilmu hadis ini, tidak ada teks Al-Qur’an maupun hadits yang mendukung klaim tersebut.
“Dengan kata lain klaim tersebut (bendera tauhid, bendera Rasul) adalah propaganda palsu. Karena tauhid adalah untuk diinternalisasi dalam hati dan diejawantahkan dalam perilaku akhlak yang luhur, bukan untuk mainan bendera,” ujar Najih kepada NU Online, Jumat (2/11).
Hal kedua menurut penulis buku Bid’ah Ideologi ISIS ini, adalah dengan senantiasa menjaga kedamaian dan ketertiban umum, termasuk tidak membuat kegaduhan dengan langganan melakukan aksi massa yang bisa menimbulkan gejolak di masyarakat.
Pengalaman di Suriah, tuturnnya, membuktikan bahwa kondisi instabilitas akan mengundang pihak luar untuk masuk menginfiltrasi, menyusup dan menunggangi.
“Ketika ‘api’ kekacauan sudah membesar, maka akan sulit dipadamkan, sebagaimana Suriah yang delapan tahun hidup dalam kepahitan, tak kuasa lagi mengembalikan kondisi semula,” jelas alumnus Universitas Ahmad Kuftaro Damaskus ini.
Pesan lain yang ia sampaikan ialah agar berpegang teguh pada ulama-ulama yang perilakunya adalah cerminan akhlak Nabi. Ia mencontohkan seperti KH Maimoen Zubair, KH Ahmad Mustofa Bisri, Buya Syafi’i Maarif, Habib Quraish Shihab, dan seterusnya.
“Mereka adalah pelita-pelita umat yang mampu menuntun perjalanan bangsa ini ke arah yang baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur,” ucap Najih.
Mengenai fenomena munculnye pemeran agamawan, yang mendadak ustadz, ia menyatakan perlu diuji dulu, apakah perilakunya sesuai dengan tuntunan Nabi atau tidak. Ustadz tukang caci dan mengaku paling benar, tentu bukan panutan. “Cari tahu, dimana dia belajar? Kepada siapa? Belajar apa?” jelasnya.
Terakhir, ia menyampaikan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah ‘sajadah’ kita, yang merupakan warisan para ulama. Karena itu, sudah penuh nilai-nilai keislaman.
“Merupakan kewajiban kita untuk menjaga, melestarikan, dan mewujudkan kemakmurannya. Tanpa negara tidak mungkin kita beragama. Karena itu, menjaga negara adalah bagian pokok dari menjaga agama,” tandas Najih.
Tidak ingin Indonesia yang damai menjelma menjadi negara terpuruk seperti Suriah, Alsyami menggelar seminar kebangsaan bertajuk Jangan Suriahkan Indonesia..! pada Kamis (1/11) malam di Jakarta Selatan.
Kegiatan ini menghadirkan Syekh Adnan al-Afyouni (Mufti Damaskus, Ketua Dewan Rekonsiliasi Nasional Suriah), Djoko Harijanto (Dubes RI untuk Suriah), Ziyad Zahruddin (Dubes Suriah untuk Indonesia), Ahmad Fathir Hambali (Ketua Alsyami), Ahsin Mahrus (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Damaskus), dan  Ainur Rofiq (mantan petinggi HTI).
Seminar tersebut merupakan bagian dari kampanye dakwah Alsyami menolak segala upaya yang bisa menjadikan Indonesia luluh lantak seperti Suriah. Seminar ini disambut antusias oleh masyarakat Indonesia, baik yang datang langsung ke lokasi seminar, maupun menyimak secara live streaming. Sampai dengan dini hari tadi, tagar #JanganSuriahkanIndonesia menjadi top trending topic di Twitter.


from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2AJcw0g
via Muslim Sejati

Thursday, November 1, 2018

Indonesia Damai Tanpa Khilafah

Berakhirnya Khilafah Turki Utsmani pada 3 Maret 1924 silam diyakini pula oleh beberapa kalangan sebagai tanda berakhirnya peran Islam dalam pentas politik. Pasalnya, saat itu semua kegiatan umat Islam terpuruk, baik bidang politik, ekonomi, militer, budaya maupun teknologi dan sebagainya.

Alih-alih dipaparkan, ide khilafah internasional pertama kali diperankan oleh jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan di Mesir pada tahun 1928. Naasnya, selanjutnya pun banyak dimainkan oleh jamaah Hizbut Tahrir yang didirikan di Jerusalem Timur tahun 1952. Dan baru-baru ini, juga digaungkan oleh Islamic State of Iraq and Sham (ISIS) di Irak dan Syiria yang belum lama namanya turut vulgar di Indonesia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dibentuk guna mewadahi segenap elemen bangsa yang sangat majemuk dalam hal suku, bahasa, budaya dan agama. Sudah menjadi kewajiban semua elemen bangsa untuk mempertahankan keutuhan NKRI dari segi apapun. Indonesia negara yang mempunyai beragam elemen dari bermacam-macam agama. Lantas, apakah mungkin Indonesia mendirikan negara khilafah islamiyah padahal kewajiban rakyatnya adalah mempertahankan keutuhan ?

Dalam dinamika perjuangannya, keinginan beberapa kelompok mendirikan negara khilafah mendapat penolakan mutlak. Utamanya, gengster organisasi Islam terbesar, Nahdlatul Ulama. Alasannya elegan, Abu Bakar diangkat secara aklamasi, Umar ditunjuk dengan wasiat khalifah sebelumnya (disepakati umat Islam) dan selanjutnya sistem formatur, yakni mengangkat 6 kandidat untuk dipilih salah seorang saja.

Namun bagaimanapun, keinginan mendirikan sistem negara khilafah menuai banyak dukungan juga. Isu khilafah menjadi salah satu motif devide et impera zaman now. Bagaimana tidak, penulis belum lama mengkaji tiga situs keislaman dengan nama situs yang mirip. Penulis yakin, jika yang membuka dan mengambil informasi dari situs-situs tersebut bukan akademisi, pastinya tidak diragukan akan menimbulkan banyak madharat. Mengapa? Karena isi situs-situs tersebut lebih kepada kepentingan personal. Jika tidak, isinya lebih kepada memecah belah kelompok dan menganggap selainnya adalah kompetitor.

Naasnya, di Indonesia sendiri penjualan “khilafah” cukup laku keras. Toleransi keberagamaan mulai luntur seiring maraknya konsep jihad fii sabilillah. Padahal, ajaran saling memahami, menghormati dan toleransi telah dijelaskan dan dicontohkan dengan gamblang oleh bapak negara Indonesia ke-4, K.H. Abdurrahman Wahid dalam berbagai tulisan, pernyataan dan tindakannya.

Lantas, bagaimana kita akan meneguhkan keutuhan NKRI jika visi misi kita sudah berbeda? Sistem kenegaraan Islami atau khilafah tentu tidak sejalan dengan sistem kenegaraan masyarakat non-Islam. Meminjam tulisan Gus Dur, di lain pihak kita juga harus menghormati hak mereka yang justru mempertanyakan kehadiran sistem Islami tersebut, yang secara otomatis akan membuat mereka yang tidak beragama Islam sebagai warga dunia yang kalah dari kaum muslimin.

Ini juga berarti, bahwa dalam kerangka kenegaraan sebuah bangsa, sebuah sistem Islami otomatis membuat warga negara non-Islam berada di bawah kedudukan warga negara beragama Islam, alias menjadi warga negara kelas dua. Ini patut dipersoalkan, karena juga akan berdampak pada kaum muslimin nominal, yang tidak menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan.

Kaum muslim demikian, sering disebut muslimin nominal atau abangan, tentu akan dinilai kurang Islami jika dibandingkan dengan mereka yang menjadi anggota/ warga partai/ organisasi para pelaksana ajaran Islam secara penuh, yang juga sering dikenal dengan nama “kaum santri”. Wallahu a’lam. 



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2QbekEH
via Muslim Sejati

Wacana Atau Ide Khilafah Bukan Ide Islam

Wacana pengusung khilafah menyebut demokrasi yang kini tengah diperjuangkan dan dianut sebagai sistem Pemerintahan di Indonesia sebagai sistem pemerintahan yang haram dan salah, dan yang benar, tentu saja: khilafah. Beberapa pertanyaan yang dapat kita ajukan adalah, jika katanya Khalifah (pemimpin dari sistem khilafah) tidak ditunjuk oleh Allah, tetapi dipilih oleh kaum Muslim, dan memperoleh kekuasaannya melalui akad bai’at, lalu bagaimana nasib manusia-manusia yang lain di negeri ini?

Indonesia, sebagaimana kita ketahui adalah Negara yang tidak hanya memiliki keragaman Sumber Daya Alam, namun juga Sumber Daya Manusia yang terdiri dari keragaman Suku, Agama dan RAS. Dalam sistem demokrasi Pancasila, hak tiap-tiap warga Negara, tak peduli apapun latar belakangnya, diakui dan bersifat setara.

Kebudayaan, yang menjadi warna sebuah peradaban manapun di dunia, selalu mengikuti dan menghormati proses. Sejarah kebudayaan adalah sejarah panjang yang sangat tua dan kompleks. Nabi Muhamad, dalam piagam Madinah tidak pernah menyelenggarakan kekhilafahan, namun menjamin hak yang adil bagi setiap manusia, pun berdasar situasi budaya yang eksis pada zamannya.

Kedua, bahwa sebagaimana termaktub dalam laman http:www.hizbut-tahrir.or.id, pengusung wacana Khilafah tidak mengakui Khilafah sebagai sistem teokrasi.

Menurut para pengusungnya, konstitusi pada Negara Khilafah yang mereka cita-citakan itu nantinya tidak terbatas pada masalah religi dan moral sehingga mengabaikan masalah-masalah sosial, ekonomi, kebijakan luar negeri dan peradilan. Khilafah, katanya, juga menginginkan kemajuan ekonomi, penghapusan kemiskinan, dan peningkatan standar hidup masyarakat.

Lha, kalau begitu, bukankah sudah sama persis dengan Negara Indonesia yang sudah jadi? Di Negeri ini, hak-hak kaum beragama telah dijamin dalam Pasal 29 UUD 1945. Negara memfasilitasi hal tersebut lewat Kementerian Agama bahkan berbagai organisasi kemasyarakatan yang gerakannya dilindungi.

Di saat sistem sudah jadi, apakah kita diajak kembali bermimpi? Pantas saja Pemerintah berhasrat membubarkan organisasi HTI sebagai agen pengusung khilafah dengan tuduhan sebagai organisasi yang kontra-produktif alias tidak memberikan kontribusi bagi pembangunan.

Retorika HTI itu bisa disebut sebagai langkah “strategic ambiguity”. Di satu sisi, HTI tidak menyatakan secara eksplisit dan terang-terangan ingin mengganti Pancasila, tetapi di sisi lain ia terus menyuarakan wacana anti-sistem demokrasi secara radikal lewat berbagai aksi yang mereka gelar secara rutin.

Sudah jamak kita ketahui, bahwa dalam aksi-aksi itu pula mereka kerap meremehkan simbol-simbol Negara, seperti lebih menegakkan bendera organisasi dibanding bendera merah putih, dan poster-poster seruan makar dari negara Pancasila.

Buku Manifesto Hizbut Tahrir untuk Indonesia (2009) menyatakan, “Hizbut Tahrir juga menentang dengan keras konsep-konsep yang lahir dari paham Sekularisme seperti Demokrasi, Patriotisme, Sosialisme dan Kapitalisme atau isme-isme lain.”

Abdul Qadim Zallum (1924-2003), pemimpin generasi kedua Hizbut Tahrir setelah pendirinya Taqiyuddin al-Nabhani (1909-1977), menulis buku berjudul Demokrasi Sistem Kufur (Ad-Dimuqrathiyyah Nizham Kufr) yang kemudian disebarluaskan sebagai bacaan pokok kaderisasi. Buku ini tidak hanya menyerang demokrasi tetapi juga menuduh nasionalisme sebagai strategi jahat orang-orang kafir untuk memecah belah dunia Islam.

Pada zamannya, Akibat lain dari ide khilafah ialah munculnya pemaksaan tafsir dari mazhab atau aliran tertentu jika mazhab itu memegang kekuasaan. Hal itu semacam gabungan dari will to truth yang bergabung dengan will to power. Syariat yang harusnya dipahami sebagai metode, akhirnya direduksi hanya sebagai hukum formal yang dimanfaatkan untuk menindas golongan lain.

Sedangkan, Indonesia sekarang ini sudah jauh lebih Islam(i) dan syar’i secara sistem daripada konsep khilafah itu. Yang paling penting dari syariah adalah substansinya, yakni keadilan (yang disebut al-Quran sebagai “dekat kepada takwa”; aqrabu lit-taqwa). Perihal keadilan ini sudah sejak kelahirannya dipikirkan betul oleh para pendiri bangsa dengan bersepakat menghapus narasi sila pertama pada piagam Jakarta.

Teks awal yang berbunyi “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” akhirnya diubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa sebab terjadi pertentangan antar golongan yang menganggap kalimat itu memuat nilai pemaksaan kehendak satu golongan. Jelas sudah, bahwa sikap legawa para pemimpin Islam ketika itu untuk mengambil jalan tengah sesungguhnya menunjukkan sikap kesatria sekaligus pengambilan tafsir terbaik atas nama keadilan.

Berdasar latar belakang sejarah ini, hendaknya umat Muslim Indonesia yang telah terindoktrinasi wacana khilafah tidak lagi takut soal dosa atau alasan hukum agama. Sekali lagi, pendirian khilafah tidak berkaitan dengan otoritas kebenaran hukum Islam. Dan, pendirian Negara Islam sama sekali tidak sama dengan Islam itu sendiri.



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2Qi6Y2w
via Muslim Sejati

Khilafah dan Generasi Salah Paham Sejarah

Al Qur’an dan tarikh sejarah Nabi Saw tidak pernah mengisyaratkan sistem pemerintahan tertentu dalam Islam setelah Rasulullah wafat. Orang yang menelaah hadits-hadits yang disampaikan oleh para penyusun kitab-kitab hadits dalam bab Imarah (pemerintahan) pun tidak akan menemukan kodifikasi mengenai sistem pemerintahan. Sebaliknya, banyak ditemukan penjelasan bahwa Nabi Saw tidak pernah menunjuk seorang pengganti, tetapi membiarkan urusan itu berdasarkan pilihan umat yang menjalani.

Daulah Islamiyah sendiri lahir sekitar pertengahan abad ke-20, yang berdiri di atas pemikiran-pemikiran dan kecenderungan-kecenderungan yang muncul di bawah bayang-bayang rasa khawatir terhadap hilangnya identitas keislaman akibat westernisasi, imperialisme, dan dominasi penduduk mayoritas di India. Oleh karena itu, masalah ini tumbuh dan berkembang di dalam Rabithah Islamiyah dan Abu al-A’la al-Maududi, pendiri Jamaah Islamiyah yang ada di sana, yang berakibat pada lepasnya daerah yang mayoritas penduduknya Muslim dengan nama Pakistan pada tahun 1947 M.

Suatu hal yang kemudian menciptakan masalah baru bagi kaum Muslim yang tetap tinggal di India, karena berubah menjadi minoritas dan harus berhadapan dengan mayoritas dalam suasana saling mencurigai. Kemudian muncul masalah lain di kalangan internal kelompok yang memisahkan diri, yaitu pecah lagi menjadi dua karena alasan etnik.

Sejarah kelam semacam itu tentu berbeda dengan sejarah Indonesia. Sejak “zaman bergerak” atau awal kebangkitan Nasional pada awal abad ke-19, Indonesia terbentuk dengan pola yang unik. Di masa kolonial itu, segelintir kaum terpelajar justru tersadar bahwa gerakan yang terpecah-pecah sampai kapanpun tidak akan mampu mengusir penjajah. Mereka lalu membentuk berbagai kelompok ideologis yang berbeda namun dengan misi yang sama, yakni Indonesia Merdeka.

Kesadaran untuk berkumpul dalam kongres Sumpah Pemuda terjadi sama sekali bukan atas nama agama apapun. Dan, meskipun mereka datang atas nama Jong-Jong berbagai daerah, ikrar sumpah pemuda yang lahir justru memuat redaksi mengagumkan, yakni kami putra dan putri Indonesia. Redaksi tersebut tidak bermuatan identitas Suku, Agama dan Ras apapun bahkan sebelum Indonesia dilahirkan pada tahun 1945.

Manusia Indonesia menganggap keragaman tersebut sebagai keniscayaan, dan kesepakatan untuk bersatu sebagai warga negara adalah sebuah kesadaran.

Pada perjalanannya, segala sesuatu yang mencoba merongrong Pancasila dan UUD 1945 yang memuat pesan-pesan keadilan universal itu tampaknya selalu tidak berhasil. Rakyat Indonesia sepertinya sadar bahwa warisan dasar Negara yang telah dirumuskan itu ternyata merupakan salah satu yang terbaik di dunia, apalagi untuk negeri yang sangat penuh dengan keragaman seperti Indonesia.

Sebaliknya, Asy-Syahrastani dalam Al-Milal wa An-Nihal sebagaimana dikutip dalam buku Jihad Melawan Teror (2016) mengatakan,”Perselisihan terbesar antarumat adalah perselisihan tentang imamah (khilafah); pedang tidak pernah terhunus di dalam Islam demi sebuah prinsip agama seperti terhunusnya pedang demi imamah di setiap zaman.”

Pernyataan Asy-Syahrastani itu nampaknya logis. Sebab, sepeninggal Rasul Saw pun umat telah terpecah belah, mulai dari masa kekhalifahan Abu Bakar hingga berakhirnya kejayaan Turki Utsmani. Namun, nampaknya, banyak umat Islam yang masih diliputi dendam bercampur delusi pada kejayaan masa lalu, dan tidak berkaca bahwa yang mengakibatkan lemahnya pertahanan umat Islam adalah kejumudan berpikir, tenggelamnya ilmu pengetahuan, dan perebutan kekuasaan.

Bersamaan dengan itu, juga muncul dua kecenderungan. Pertama, kecenderungan yang menganggap sistem politik sebagai salah satu rukun agama, dan kedua, kecenderungan yang menganggap khilafah, yakni bentuk pemerintahan yang dipilih oleh kaum Muslim setelah Rasulullah Saw wafat, sebagai satu-satunya bentuk pemerintahan yang sah dan menjamin penerapan hukum syariah, adalah dua kecenderungan yang belum pernah dikenal oleh agama dan ijtihad kaum Muslim terdahulu, bahkan keduanya hampir saja menyebabkan perpecahan dan kehancuran di banyak negara, kelompok masyarakat dan agama.

Bahaya dari pemakasaan konsep khilafah di Indonesia adalah kecenderungan menganggap demokrasi sebagai sistem kafir, dan bahkan Muslim yang tak sepakat pada khilafah pun belakangan dikafirkan. Padahal, fenomema pengafiran pihak yang berbeda pendapat ini dan dampaknya dengan penghalalan darah adalah bukan hal baru dalam Islam. Kita semua pernah belajar bagaimana Khawarij terjerumus ke dalam bencana ini akibat kesalahpahaman mereka terhadap konsep iman kepada Allah sebagai pokok dan perbuatan sebagai cabang. Dari Khawarij kita juga belajar, bagaimana mereka tersesat ketika berpegang pada makna lahiriah teks, namun abai pada makna lahiriah teks lain yang bertentangan dengan apa yang mereka pahami.

Faktanya, dalam Islam, identitas keagamaan tidak ditentukan oleh rezim politik yang sedang berkuasa, tetapi ditentukan berdasarkan akidah, ibadah, dan perilaku mereka yang tidak mencakup sistem politik. Sistem politik bukan bagian dari agama dan bukan pula tuntutan dari agama.

Adapun yang termasuk tuntutan syara’ adalah terselenggaranya suatu pemerintahan dalam sebuah kelompok masyarakat untuk menjaga maslahat umum, menetapkan keadilan, menebarkan keamanan, dan melawan agresi dari luar.

Sehingga, dapat dikatakan bahwa, orang-orang yang percaya pada konsep khilafah di Indonesia, sebagaimana dibawa oleh HTI yang diimpor dari Taqiyyudin An Nabani adalah orang-orang yang tuna-sejarah dan mengalami kesalahpahaman dalam konsep khilafah.



from MUSLIM SEJATI https://ift.tt/2P3OkyM
via Muslim Sejati